Psikologi dan Konseling Keluarga
2.1 PROBLEM KELUARGA
Istilah
problem merupakan objek utama dari bimbingan dan konseling. Adanya organ dan
kegiatan bimbingan dan konseling karenaadanya individu yang mempunyai problem
boleh juga dikatakan oleh karena adanya individu yang memiliki suatu problem,
maka diperlukan adanya program bimbingan dan konseling, untuk mengusahaakan
pencegahannya atau memberikan bantuan untuk pemecahan problem tersebut. hampir
setiap manusia di dinua ini memiliki problem, baik problem besar maupun kecil
serius ataupun sederhana banyak maupun sedikit, berat maupun ringgan.
Adakalanya seseorang akan sangat kesal mengahdapi problem , walaupun problem
itu sangat ringgan sekalipun, tetapi sebaliknya ada seseorang yang masih tetap
tabah walaupun sedang mengalami problem yang berat dan serius.
Maka
seberapa berat penderitaan individu dalam mengalami problem tergantung sekali
kepada individu itu sendiri dalam menanggapi problem yang diderita/dialami,
sehingga problem sifatnya yang amat relative, tidakk sama bagi individu yang
satu dan yang lain. Tetapi pada umumnya problem memang mengganggu kehidupan
manusia Karen yang dimaksud problem adalah:
A matter which needs thinking about
in order to find tha solution or something to which in answer must be found.
(Hornby, A. Scs, 1948, hal.986)
Jadi
problem adalah masalah yang membutuhkan pemikiran untuk menemukan pemecahannya.
Problem
yang berhasil bermukim pada seorang individu dengan tanpa mendapatkan jalan
keluar pemecahanny, akan sangat mengganggu kehidupan individu tersebut. objek
bimbingan dankonseling adalah seseorah yang normal tetapi memiliki problem atau
kesulitan. Bimbingan dan konseling bertugas membantu seseorang dalam mencegah
datangnya problem (usaha preventive/pencegahan), mempertahankan agar seseorang
tetap pada keadaan yang telah sedemikian baik (usaha
preservative/pemeliharaannya) dan membantu seseorang dalam menemukan dan
memecahkan problelmnyaa (usaha curative/pengobatan), mempertahankan agar
seseorang tetap pada keadaan yang telah sedemikian baik (usaha
preservative/pemeliharaannya) dan membantu seseorang dalam menemukan dan
memecahkan problemnya (usaha curative/pengobatan).
Maka
perlu diusahakan oleh manusia yang hidup didunia ini jangan sampai dikuasai
oleh problem, melainkan sebaliknya problem dikuasai oleh manusia. Problem yang
diderita oleh seorang individu adalah berupakesulitan atau masalah.
Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan tersebut
harus memutuskan bagaimana membagi harta mereka yang diperoleh selama
pernikahan (seperti rumah, mobil, perabotan atau kontrak), dan bagaimana mereka menerima biaya dan kewajiban merawat anak-anak mereka. Banyak negara yang memiliki hukum dan aturan tentang perceraian, dan pasangan
itu dapat diminta maju ke pengadilan.
2.2 JENIS
DAN FAKTOR PERCERAIAN
Jenis perceraian
faktor
penyebab perceraian antara lain adalah sebagai berikut :
- Ketidakharmonisan dalam rumah tangga
Alasan
tersebut di atas adalah alasan yang paling kerap dikemukakan oleh pasangan
suami – istri yang akan bercerai. Ketidakharmonisan bisa disebabkan oleh
berbagai hal antara lain, krisis keuangan, krisis akhlak, dan adanya orang
ketiga. Dengan kata lain, istilah keharmonisan adalah terlalu umum sehingga
memerlukan perincian yang lebih mendetail.
- Krisis moral dan akhlak
Selain
ketidakharmonisan dalam rumah tangga, perceraian juga sering memperoleh
landasan berupa krisis moral dan akhlak, yang dapat dilalaikannya tanggung
jawab baik oleh suami ataupun istri, poligami yang tidak sehat, penganiayaan,
pelecehan dan keburukan perilaku lainnya yang dilakukan baik oleh suami ataupun
istri, misal mabuk, berzinah, terlibat tindak kriminal, bahkan utang piutang.
- Perzinahan
Di
samping itu, masalah lain yang dapat mengakibatkan terjadinya perceraian adalah
perzinahan, yaitu hubungan seksual di luar nikah yang dilakukan baik oleh suami
maupun istri.
- Pernikahan tanpa cinta
Alasan
lainnya yang kerap dikemukakan oleh suami dan istri, untuk mengakhiri sebuah
perkawinan adalah bahwa perkawinan mereka telah berlangsung tanpa dilandasi
adanya cinta. Untuk mengatasi kesulitan akibat sebuah pernikahan tanpa cinta,
pasangan harus merefleksi diri untuk memahami masalah sebenarnya, juga harus
berupaya untuk mencoba menciptakan kerjasama dalam menghasilkan keputusan yang
terbaik.
- Adanya masalah-masalah dalam perkawinan
Dalam
sebuah perkawinan pasti tidak akan lepas dari yang namanya masalah. Masalah
dalam perkawinan itu merupakan suatu hal yang biasa, tapi percekcokan yang
berlarut-larut dan tidak dapat didamaikan lagi secara otomatis akan disusul
dengan pisah ranjang seperti adanya perselingkuhan antara suami istri. Langkah
pertama dalam menanggulangi sebuah masalah perkawinan adalah :
- Adanya keterbukaan antara suami – istri
- Berusaha untuk menghargai pasangan
- Jika dalam keluarga ada masalah, sebaiknya diselesaikan secara baik-baik
- Saling menyayangi antara pasangan
2.3 DAMPAK PERCERAIAN
Perceraian Sering Menimbulkan Tekanan Batin Bagi Tiap Pasangan Tersebut. Anak-Anak
Yang Terlahir Dari Pernikahan Mereka Juga Bisa Merasakan Sedih Bila Orangtua Mereka Bercerai. Namun, Banyak Sumber Daya Yang
Bisa Membantu Orang Yang Bercerai, Seperti Keluarga Besar, Teman-Teman, Terapi, Konsultan, Buku, Dan DVD.
Beberapa Faktor Di Bawah Ini Adalah Penyebab Masalah
Keluarga Yang Seringkali Timbul:
1. Kurangnya Kemampuan berinteraksi antar pribadi dalam
menanggulangi masalah
Dalam usahanya untuk menghadapi masa transisi dan krisis,
banyak keluarga mengalami kesulitan menangani karena kurangnya pengetahuan,
kemampuan, dan fleksibilitas untuk berubah. Menurut seorang konselor yang
berpengalaman, keluarga yang mengalami kesulitan beradaptasi seringkali
berkutat pada halangan-halangan yang ada dalam keluarga -- yaitu sikap dan
tingkah laku yang manghambat fleksibilitas dan menghalangi penyesuaian kembali
dengan situasi yang baru. Jenis halangan-halangan tersebut dapat muncul dengan
tipe yang berbeda- beda:
- Halangan dalam komunikasi timbul jika masing-masing anggota keluarga tidak tahu bagaimana mereka harus membagikan perasaan mereka dengan anggota keluarga lainnya atau bagaimana mengungkapkan perasaan mereka dengan jelas. Beberapa keluarga mempunyai topik-topik pembicaraan yang dianggap tabu. Mereka tak pernah membicarakan tentang uang, seks, hal-hal rohani, atau perasaan mereka. Sementara itu keluarga yang lain tak pernah tertawa selama mereka di rumah, jarang berbicara tentang apa yang mereka pikirkan, tidak dapat mendengarkan orang lain, atau tidak dapat berkomunikasi tanpa berteriak atau tanpa menggunakan sarkasme dan bentuk-bentuk komunikasi lain yang merusak. Ada juga keluarga yang menyampaikan pesan ganda, kata-kata mereka mengungkapkan satu hal tetapi tindakan mereka berkata lain. Hal yang sulit bagi sebuah keluarga untuk menghadapi krisis adalah jika masing-masing dari anggota keluarga tidak dapat berkomunikasi secara efektif.
- Halangan dalam hal keakraban/kedekatan merupakan ciri dari keluarga yang mempunyai hubungan yang tidak erat satu sama lain. Kadang-kadang anggota keluarga merasa takut untuk bersikap akrab. Mereka jarang meluangkan waktu untuk bersama-sama, tidak saling percaya atau tidak menghormati anggota keluarga yang lain, jarang berbagi masalah, dan punya kesulitan dalam menangani krisis karena mereka tidak pernah belajar untuk bekerjasama dengan akrab.
- Halangan dalam hal aturan keluarga yang tidak tertulis, bahkan seringkali tidak dikatakan, namun biasanya merupakan hukum-hukum yang diterima tentang siapa tidak boleh melakukan apa. Hampir semua keluarga tidak mempunyai aturan yang baku sehingga hal ini seringkali membingungkan terutama bagi anak-anak. Ada juga keluarga yang mempunyai aturan yang kaku sehingga menghambat pertumbuhan individu-individu dalam keluarga. Keluarga yang religius, keluarga yang ingin maju secara sosial, keluarga yang mempunyai paling sedikit satu anggota tetap, keluarga militer, dan beberapa keluarga minoritas lainnya diidentifikasikan sebagai keluarga yang seringkali mempunyai aturan kuat yang dapat mencegah fleksibilitas, mengabaikan sumber-sumber pertolongan dari luar, dan menghambat kemampuan untuk mengatasi masalah pada saat-saat tekanan terjadi dalam keluarga.
- Halangan sehubungan dengan sejarah keluarga, termasuk rahasia keluarga yang tidak boleh diungkapkan oleh anggota keluarga atau berita-berita yang "tidak didiskusikan oleh keluarga." Kadang- kadang anggota keluarga menyembunyikan rahasia-rahasianya dari anggota keluarga lainnya -- misalnya kehamilan yang tidak sah, anak cacat yang diaborsi, pernikahan dini dan perceraian, atau hutang yang tidak dibicarakan. Sikap seperti ini akan membuat beberapa anggota keluarga bersikap berjaga-jaga, sementara yang lainnya merasa curiga akan adanya sesuatu yang tidak mereka ketahui. Kadang-kadang rahasia tersebut diketahui oleh seluruh anggota keluarga tetapi mereka merahasiakannya terutama untuk menjaga kehormatan keluarga. Semuanya ini akan menghalangi kejujuran untuk mengatasi krisis dimana faktor kejujuran sangat penting.
- Halangan mengenai tujuan yang berhubungan dengan masalah ekonomi, akademis, sosial, politik, atau tujuan-tujuan lainnya yang ditetapkan oleh beberapa anggota keluarga bagi mereka sendiri atau bagi anggota keluarga yang lain. Ada seorang pendeta yang mengharuskan ketiga anak laki-lakinya masuk dalam pelayanan. Ketika seorang dari mereka memberontak secara terang-terangan atas keinginan ayahnya ini, dan yang satunya menolak tapi dengan sikap pasif, maka sang pendeta menanggapinya dengan penuh kemarahan. Mempunyai cita-cita dan ambisi keluarga merupakan hal yang sehat, tetapi jika tujuan dan ambisi tersebut dipertahankan secara kaku atau ketika seorang anggota keluarga menetapkan cita-cita bagi anggota yang lain, hal ini justru akan menimbulkan kesulitan terutama ketika hasil yang dicapai tidak seperti yang diharapkan. Hidup jarang sekali berjalan dengan mulus dan keluarga yang tidak mampu menyesuaikan cita-cita yang dimiliki seringkali terlibat dalam masalah-masalah keluarga.
- Halangan mengenai nilai-nilai yaitu cara berpikir yang sebelumnya diterima keluarga tetapi kemudian ditolak oleh salah satu/banyak anggota keluarga lainnya. "Semua keluarga kita masuk ke perguruan tinggi", "Perempuan dalam keluarga kita tidak boleh bekerja di luar rumah", "Tidak boleh ada anggota keluarga kita yang minum minuman keras", "Semua orang dalam keluarga kita adalah Presbiterian", merupakan contoh nilai-nilai yang dipegang teguh namun seringkali ditentang oleh beberapa anggota keluarga, terutama anggota keluarga yang lebih muda. Ketika keluarga tidak mau atau mampu beradaptasi dengan perubahan, konflik seringkali timbul.
Dari daftar halangan di atas, mungkin bisa ditambahkan
halangan- halangan yang berhubungan dengan orang ketiga ((triangulation) dan
pelimpahan kesalahan (detouring). Dua istilah teknis tersebut menggambarkan
tingkah laku yang seringkali nampak dalam keluarga. Triangle atau segitiga
adalah kelompok tiga orang dimana dua anggotanya mengucilkan anggota yang
ketiga. Ibu dan anak perempuannya misalnya, membentuk suatu koalisi melawan
sang ayah. Salah satu dari pasangan suami-istri merangkul salah satu dari
anaknya untuk melawan pasangannya. Kadang-kadang seorang suami dapat bersekutu
dengan wanita simpanannya untuk melawan istrinya. Keluarga triangulasi seperti ini
jarang sekali berfungsi dengan baik.
Pelimpahan kesalahan (detouring) adalah istilah lain dari
mencari 'kambing hitam'. Dengan mengkritik anak laki-lakinya yang memberontak,
anak perempuannya yang menolak untuk makan, atau guru sekolah yang tidak kompeten,
dapat membuat kedua orangtua terus sibuk beradu argumen satu sama lain. Masalah
yang lebih mendasar, seperti konflik perkawinan, dikesampingkan atau diabaikan
sehingga dua pasangan tersebut berjuang bersama melawan musuh mereka. Masalah
"detouring" ini kelihatannya menjadi masalah yang sering muncul dalam
keluarga-keluarga di gereja. Memerangi dosa, atau terlibat dalam politik
gereja, untuk sementara waktu dapat membuat anggota keluarga melupakan rasa
sakitnya sehubungan dengan masalah serius yang sedang dihadapi keluarga mereka.
2. Kurangnya komitmen terhadap keluarga
Menjadi sangat sulit untuk membangun kebersamaan keluarga
dan menangani masalah jika satu atau lebih dari anggota keluarga tidak
mempunyai keinginan atau waktu untuk terlibat. Orang-orang dimotivasi oleh
karir bekerja dalam perusahaan yang mengharapkan pekerjanya memberikan 100%
komitmen. Pekerjaan yang dilakukan menuntut kesediaan mereka bekerja keras dan
dalam waktu yang panjang bagi "keluarga" perusahaan. Para pekerja ini
seringkali kehabisan energi untuk membangun hubungan dalam keluarga mereka
sendiri atau untuk menangani masalah-masalah yang berubah dari waktu ke waktu.
Konselor yang menangani masalah keluarga kadang-kadang
berjuang dengan masalah etika saat ia harus memaksa anggota keluarga yang
enggan berpartisipasi untuk memecahkan masalah keluarga. Sering anggota
keluarga yang sibuk tersebut dapat dibujuk untuk datang paling tidak untuk satu
pertemuan, dan waktu-waktu tersebut merupakan sarana untuk membujuknya
memberikan komitmen lebih besar terhadap isu-isu dalam keluarga. Namun, sering
juga konselor keluarga harus bekerjasama dengan anggota keluarga yang bersedia
saja, karena menyadari bahwa menangani anggota keluarga yang terlalu sibuk dan
tidak memiliki motivasi untuk terlibat akan lebih sulit.
3. Peran yang kurang jelas dari anggota keluarga
Setiap keluarga menetapkan peran masing-masing anggotanya.
Beberapa peran ini termasuk aktivitas; misalnya siapa yang akan membuang sampah
keluar rumah, siapa yang mencatat keuangan, siapa yang memasak, atau siapa yang
membawa anak-anak ke dokter gigi. Peran lain bersifat emosional; seperti
beberapa anggota menjadi pemberi semangat, menjadi penghibur, pemecah masalah,
atau penasihat masalah etika. Biasanya peran-peran dimulai perlahan-lahan di
awal perkawinan tetapi kadang-kadang timbul konflik tentang siapa yang akan
melakukan apa. Konflik ini akan meruncing jika masing-masing anggota memegang
perannya secara kaku atau kalau ada kebingungan peran.
Ahli psikologi, Paul Vitz, akhir-akhir ini mengadakan
penelitian ulang terhadap buku-buku pegangan yang digunakan di sekolah dasar.
Pada hampir lima belas ribu halaman dari buku-buku yang ditelitinya tersebut
tak satupun yang menyinggung tentang hal keagamaan dan gambaran tentang
keluarga diberikan secara samar-samar. Salah satu dari buku pegangan itu
mendefinisikan keluarga sebagai "sekelompok orang" dan di dalam
buku-buku itu istilah "suami" atau "istri" tak pernah
digunakan, istilah "perkawinan" hanya disinggung satu kali saja,
istilah "ibu rumah tangga" tidak ditemukan, dan tidak disinggung
satupun peran traditional gender (jenis kelamin) dalam keluarga secara jelas.
Keluarga memang sedang mengalami perubahan. Model keluarga
lama dimana perempuan menikah sekali untuk selamanya kepada seorang pria,
kemudian bekerja sama dengan pasangannya membesarkan dua atau tiga
anak-anaknya, merupakan gambaran keluarga yang semakin jarang dilihat dalam
kebudayaan kita sekarang ini. Lebih sering kita melihat keluarga dengan
orangtua tunggal; ketidakstabilan perkawinan yang menjurus pada perceraian,
pernikahan lagi (remarriage) dan pembentukan keluarga tiri; hubungan orangtua -
anak yang terbalik dimana yang masih muda mengadopsi tingkah laku sebagai
orangtua (memelihara, mendukung, atau merawat) dan orangtua berusaha
menyenangkan anak-anaknya atau mencari persetujuan dari anaknya; koalisi
orangtua - anak dimana masing-masing pasangan bersekutu dengan satu atau dua
anak-anaknya untuk melawan pasangannya. atau hubungan orangtua - anak yang
terlalu ikut campur sehingga orangtua terperangkap dalam aktivitas-aktivitas
anak, urusan sekolah, dan gaya hidup anak. Jadi bukanlah hal yang mengherankan
bila ada beberapa anggota keluarga, termasuk anak-anak, yang merasa bingung
dengan peran yang harus dijalankannya dan tidak mampu berbuat apa-apa ketika
krisis menciptakan tekanan, dan tak seorang pun tahu siapa yang seharusnya
melakukan apa.
4. Kurangnya kestabilan lingkungan
Masalah-masalah yang terjadi dalam keluarga kerap kali
berasal dari luar rumah. Kita telah membahas tentang berbagai krisis, perubahan
pandangan sosial tentang keluarga, dan tekanan pekerjaan yang membuat kekacauan
di beberapa keluarga. Televisi telah merubah pola komunikasi dalam rumah
tangga, karena menggantikan rasa kebersamaan, dan menyajikan banyak program
yang memberikan gambaran negatif tentang keluarga. Selain itu ditambah dengan
maraknya gerakan- gerakan, penggabungan perusahaan, kehilangan pekerjaan yang
tidak diharapkan atau trend ekonomi yang membuat beberapa anggota keluarga
terpaksa berada jauh dari keluarga mereka untuk bekerja. Hal lain yang menambah
ketidakstabilan jika kedapatan adanya penyakit AIDS di anggota keluarga,
keputusan dari satu anggota keluarga (seringkali adalah si ayah) untuk lari dan
meninggalkan rumah, munculnya kekerasan dalam rumah tangga, penggunaan
obat-obatan atau alkohol, atau adanya campur tangan keluarga mertua dan
orang-orang lain yang dapat mengganggu kestabilan keluarga.
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahansan pada bab
sebelumnya maka kami dapat simpulkan bahwa problema keluarga adalah
masalah-masalah yang mucul dalam keluarga itu sendiri.
Jadi problem adalah masalah yang membutuhkan pemikiran untuk menemukan
pemecahannya.
Problem
yang berhasil bermukim pada seorang individu dengan tanpa mendapatkan jalan
keluar pemecahanny, akan sangat mengganggu kehidupan individu tersebut. objek
bimbingan dankonseling adalah seseorah yang normal tetapi memiliki problem atau
kesulitan. Bimbingan dan konseling bertugas membantu seseorang dalam mencegah
datangnya problem (usaha preventive/pencegahan), mempertahankan agar seseorang
tetap pada keadaan yang telah sedemikian baik (usaha
preservative/pemeliharaannya) dan membantu seseorang dalam menemukan dan
memecahkan problelmnyaa (usaha curative/pengobatan), mempertahankan agar
seseorang tetap pada keadaan yang telah sedemikian baik (usaha
preservative/pemeliharaannya) dan membantu seseorang dalam menemukan dan
memecahkan problemnya (usaha curative/pengobatan).
Maka
perlu diusahakan oleh manusia yang hidup didunia ini jangan sampai dikuasai
oleh problem, melainkan sebaliknya problem dikuasai oleh manusia. Problem yang
diderita oleh seorang individu adalah berupakesulitan atau masalah.
Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan tersebut
harus memutuskan bagaimana membagi harta mereka yang diperoleh selama
pernikahan (seperti rumah, mobil, perabotan atau kontrak), dan bagaimana mereka menerima biaya dan kewajiban merawat anak-anak mereka. Banyak negara yang memiliki hukum dan aturan tentang perceraian, dan pasangan
itu dapat diminta maju ke pengadilan.
DAFTAR PUSTAKA
Dagun,
M. Save. Psikologi Keluarga. Jakarta:
Rieneka Cipta, 1972
Kajian
materi psikologi konseling keluarga oleh Dr. Wenny Hulukati M.Pd.Dosen UNG
Diposkan 15th March 2012 oleh Muhammad Arfandi Monoarfa